Teruslah Bermimpi

Source : pixabay

Semilir angin melewati celah jendela kamar yang sengaja terbuka, meniup tirai dengan penuh tenaga. Ingin rasanya menjadi angin, meniup dengan semangat segala gundah yang sedang melanda hati.

Hilir mudik kekacauan mewarnai hari, membuat berat untuk beranjak dari tempat tidur. Hidup memang tak pernah sama, cerita dari hari ke hari pasti berbeda.

Sekejap membenamkan diri dalam empuknya tempat tidur, menerawang dan banyak berfikir akhirnya sebuah keputusan untuk beranjak dari tempat tidur menjadi keputusan yang bulat.

Source : pixabay

Mengawali dengan semangat melihat sekeliling yang sudah lama tak tersentuh, perlahan tapi pasti satu persatu menjadi rapi dan teratur. Segala energi negatif ditumpahkan dalam usaha berbenah kamar.

Merenung telah membuat fikiran terjaga dan akhirnya menemukan sebuah kesimpulan bahwa mimpi patut diraih, hidup harus terus berlanjut meski badai masalah belum reda.

Mimpi mengobarkan api semangat, masih ada harapan untuk masa depan yang tersimpan. Menjadi terpuruk bukanlah pilihan, seberat apapun masalah mu tetaplah bersemangat dan bermimpi. Karena hari yang cerah sedang menanti mu.

Source : pixabay

Kisah Lemari Penuh Buku Milik Bapak

Waktu telah menunjukkan pukul 03.15 WIB, kini malam telah terlalu larut, tetapi saya belum juga dapat menutup mata. Ada sebuah tanda tanya besar yang sedang berkecamuk dalam alam sadar.

Dahulu segala pertanyaan yang terlintas akan segera saya temukan jawabannya di rak buku milik Almarhum Bapak. Rak buku enam tingkat dengan lebar beberapa meter selalu menyediakan jawaban untuk saya.

Di rak buku itu saya menemukan pengetahuan baru, motivasi bahkan solusi atas segala persoalan hidup yang saya alami. Meski demikian rak ini tak hanya saya datangi jika ingin menemukan jawaban, tetapi saya kerap datang untuk memilih buku secara acak dan membacanya perlahan untuk menghabiskan waktu luang.

Aroma lembaran buku yang mulai menguning itu membuat ingatan akan Almarhum bapak kembali. Bapak amat sayang dengan koleksi bukunya, ia sering menegur saya bila sembarangan memperlakukan bukunya.

Rak itu selalu rapi, buku tersusun sesuai tema, tebal dan panjang pendeknya. Bapak selalu mengingatkan saya untuk meletakkan buku kembali sesuai tempatnya semula.

Suatu pagi tanggal 26 Desember 2004 musibah dahsyat melanda, rumah kami yang berjarak cukup jauh dari pantai tak luput dari terjangannya. Sebagian rumah kami hilang hanya lantai yang tersisa, sebagian lagi tetap utuh tetapi tak ada satupun perabotan yang masih layak bentuknya.

Rak buku Bapak terbelah dua, buku berserakan di dalam lumpur Tsunami. Bapak mengumpulkan beberapa buku yang sempat ia temukan. Buku itu dimasukkan ke dalam sebuah karung kemudian dipikulnya melewati reruntuhan bangunan sekitar hingga ke jalan raya.

Di tempat pengungsian saya dan Bapak menjemur buku yang tersisa, tetapi semua sebenarnya tak layak lagi untuk dibaca, air dan lumpur membuat buku benar – benar rusak. Air mata saya perlahan tumpah, bendungan yang tertahan akhirnya runtuh juga saat satu persatu buku saya keluarkan dari karung.

Awalnya buku yang sudah kering kami simpan di dalam kardus karena bau menyengat yang muncul tak mampu dihilangkan dengan pengharum.

Waktupun berlalu buku – buku itu perlahan semakin tak dapat digunakan lagi. Hingga empat tahun kemudian ajal menjemput Bapak, rak dan buku Bapak tak pernah ada lagi.

Sumber gambar : https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRJHuTReik5K9GuZCoP-GG2c218KoFmYz4pAx2hxk-YQPIpW1-C

Tiga kata dasar dalam sopan santun

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi sebuah toko yang menjual berbagai jenis VCD, mulai dari musik, film bahkan serial drama tersedia lengkap di tempat ini.

Toko yang sebenarnya cukup luas jadi penuh sesak oleh rak pajangan dan ditambah lagi dengan jumlah pengunjung yang ramai membuat tak mudah untuk berpindah dari satu rak ke rak yang lainnya.

Di tengah keramaian pengunjung, mata saya tertuju pada pasangan warga negara asing, mereka tampil amat mencolok dengan penampilan kekinian membuat mata sulit berkedip.

Tiba – tiba perhatian saya seketika teralihkan, suara halus nan lembut menyapa indra pendengaran “excuse me please…”. Segera saya mencari sumber suara tadi, dan ternyata tepat di belakang saya seorang anak kecil dengan rambut yang dikepang halus sedang meminta izin untuk melewati saya yang sedari tadi hanya terpaku menatap kedua orang tuanya.

Saya bertambah kagum dengan pasangan tadi, sejatinya anak mereka yang berusia sekitar 5 tahun telah mampu bersikap sopan santun pada orang lain.

Kejadian tadi amat kontras dengan kenyataan saat ini, dimana banyak orang dewasa di sekitar kita yang tak lagi peduli atau lebih tepatnya tak lagi menularkan sopan santun.

Apa jadinya generasi penerus kita nanti bila dari dini kita tidak memberi contoh bagaimana bersikap sopan santun?

Ada tiga kata dasar yang sepatutnya sering kita ucapkan sebagai bentuk sopan santun dalam berprilaku sehari – hari, yaitu:

Mengucapkan kata “maaf” bila salah

Tak perlu sungkan untuk memulai meminta “maaf” meski kepada bawahan anda, atau anak anda sekalipun bila bersalah padanya.

Mengucapkan kata “terima kasih”

Tak perlu menunda ucapan kata “terima kasih” pada orang yang telah membantu, sekalipun kepada asisten rumah tangga anda.

Mengucapkan kata “tolong”

Tak perlu ragu mengucapkan kata “tolong” disetiap awal sebuah permintaan yang anda minta terhadap orang lain.

Mari mulai dari diri sendiri, tularkan tiga kata dasar dalam sopan santun, karena ini merupakan bagian dari pembelajaran bagaimana menghargai sesama.

Segala yang baik berawal dari diri sendiri

Menatap birunya langit pagi dari jendela kamar lantai tiga, segala puji meluncur begitu saja pada Sang Pencipta. Sungguh nikmat dariNya tak pernah habis.

Awan yang tampak cerah mungkin terlihat biasa saja bagi sebagian kita, tapi bagi saudara kita nun jauh di sana pemandangan langit kelabu yang penuh debu dan asap menghitam diiringi desingan peluru menjadi penyambut pagi mereka.

Semua kita pasti pernah berada dalam situasi yang teramat buruk, tapi pada akhirnya berlarut dalam rasa sedih, putus asa, menyalahkan diri dan perasaan tak berguna sama sekali bukan solusi. Ayo sadarlah bahwa tak ada sesuatu yang menimpa diri kita kecuali telah disesuaikan dengan kemampuan setiap hamba. Bukankah keadaan yang terasa buruk juga bagian dari pengampunan dosa dan bentuk cinta dariNya?

Marilah bersyukur dengan memulai hari dengan menghargai sekecil apapun kebaikan di sekitar, kemudian beranjak dari tempat mu dan berilah senyuman diiringi sapaan terbaik pada setiap orang yang anda temui, percayalah segala kebaikan yang berawal dari diri sendiri akan menyemangati mu sepanjang hari.

Tak ingin berhenti

Memulai menulis saat ini terasa berat, sulit untuk memulainya. Tetapi aku faham benar bahwa disinilah me time ku saat ini.

Tenggelam dalam untaian kata, sejenak berada dalam dunia ku sendiri. Menjadi sedikit egois untuk diri dan menikmati waktu sejenak di tengah kejengahan hari.

Kesibukan di dunia nyata membuat waktu untuk menulis menjadi sulit bagi ku. Walau tak butuh waktu lama bagi ku untuk menulis, suara rengekan Malik, suara serial Sponge Bob favorit Alicia di TV dengan volume cukup membuat kuping sakit. Malik tak berhenti merengek seakan semua salah sampai ia mulai membanting gelas plastik yang semula ia pakai untuk minum.

Bukan hal yang mudah untuk menjadi waras di tengah hiruk pikuk, episode sebagai ibu dan perawat ICU menguras seluruh energi.

Tapi menulis membuat aku selalu kembali waras, percaya atau tidak saat ini aku sedang menulis ketika Malik sedang berlarian di halaman dalam pengawasan ayahnya dan beruntung suami ku punya penglihatan dan gerak yang cukup sigap untuk menghadang Malik turun ke jalan.

Ini kesempatan langka, seketika aku gunakan untuk menulis, mungkin terasa tak begitu penting bagi sebagian orang, tapi bagi ku mengasuh anak, merawat pasien dan menulis sama pentingnya bagi ku.

Salam semangat menjemput mimpi..

Mengapa saya senang menulis

Di awal tahun lalu @sittishabir mengenalkan saya sebuah wadah menulis di dunia maya. Beranjak dari sana saya terus menikmatinya hingga kini.

Aktifitas menulis sangat menyenangkan, dan berikut adalah beberapa alasan mengapa saya menyukainya:

Bentuk rasa syukur

Menulis bagi saya adalah bagian dari rasa syukur atas segala anugerah yang saya dapat baik itu dalam kesedihan maupun bahagia.

Memberi semangat

Menulis sering saya jadikan sebagai jalan keluar dari rasa sakit dan kesedihan, semua perasaan negatif saya ubah menjadi positif dalam bentuk tulisan dengan harapan dapat memberi semangat bagi orang lain.

Keterbukaan dan privasi

Saya punya batasan tulisan seperti apa yang patut untuk dipublikasi, ada pula tulisan yang tetap saya simpan hanya untuk rahasia pribadi saja.

Berimajinasi tanpa batas

Menulis membawa imajinasi saya ke dunia yang selama ini belum pernah terpikirkan. Saya bersyukur atas kemudahan saat menulis. Semua tulisan saya lahir dari keyboard smartphone, dan saya sangat nyaman dengan itu.

Me time

Melalui menulis saya menemukan dunia saya. Sejenak beralih dari aktifitas merawat pasien dan mengasuh anak – anak. Tak butuh waktu berlama dengan bantuan smartphone, saya bisa menemukan me time di mana saja kapan saja.

Saya biasa menulis saat anak – anak tertidur, saat dalam perjalanan atau saat menunggu suami menjemput saya dari tempat kerja.

Mengisi waktu luang dengan hal positif

Bagi saya waktu luang adalah waktu disaat anak – anak telah makan kemudian terlelap dalam buaian dan setelah segala tugas selesai, atau terkadang saya mencuri waktu beberapa menit diantara rutinitas bersama anak – anak untuk menyelesaikan tulisan yang telah saya mulai sebelumnya.

Membaca kemudian menulis

Hasrat menulis terkadang hadir setelah saya membaca. Dan kadang hal ini juga berlaku sebaliknya menulis kadang memaksa saya untuk membaca.

Inilah beberapa alasan saya menulis, saya berharap banyak orang di luar sana yang menulis. Sebuah pertanyaan dari saya bukankah kita mengetahui sejarah masa lalu dan prediksi masa depan dari tulisan yang dibuat para pendahulu?

Tak ada yang kenal dengan seseorang hingga ia dihadirkan dalam tulisan”