Kisah Lemari Penuh Buku Milik Bapak

Waktu telah menunjukkan pukul 03.15 WIB, kini malam telah terlalu larut, tetapi saya belum juga dapat menutup mata. Ada sebuah tanda tanya besar yang sedang berkecamuk dalam alam sadar.

Dahulu segala pertanyaan yang terlintas akan segera saya temukan jawabannya di rak buku milik Almarhum Bapak. Rak buku enam tingkat dengan lebar beberapa meter selalu menyediakan jawaban untuk saya.

Di rak buku itu saya menemukan pengetahuan baru, motivasi bahkan solusi atas segala persoalan hidup yang saya alami. Meski demikian rak ini tak hanya saya datangi jika ingin menemukan jawaban, tetapi saya kerap datang untuk memilih buku secara acak dan membacanya perlahan untuk menghabiskan waktu luang.

Aroma lembaran buku yang mulai menguning itu membuat ingatan akan Almarhum bapak kembali. Bapak amat sayang dengan koleksi bukunya, ia sering menegur saya bila sembarangan memperlakukan bukunya.

Rak itu selalu rapi, buku tersusun sesuai tema, tebal dan panjang pendeknya. Bapak selalu mengingatkan saya untuk meletakkan buku kembali sesuai tempatnya semula.

Suatu pagi tanggal 26 Desember 2004 musibah dahsyat melanda, rumah kami yang berjarak cukup jauh dari pantai tak luput dari terjangannya. Sebagian rumah kami hilang hanya lantai yang tersisa, sebagian lagi tetap utuh tetapi tak ada satupun perabotan yang masih layak bentuknya.

Rak buku Bapak terbelah dua, buku berserakan di dalam lumpur Tsunami. Bapak mengumpulkan beberapa buku yang sempat ia temukan. Buku itu dimasukkan ke dalam sebuah karung kemudian dipikulnya melewati reruntuhan bangunan sekitar hingga ke jalan raya.

Di tempat pengungsian saya dan Bapak menjemur buku yang tersisa, tetapi semua sebenarnya tak layak lagi untuk dibaca, air dan lumpur membuat buku benar – benar rusak. Air mata saya perlahan tumpah, bendungan yang tertahan akhirnya runtuh juga saat satu persatu buku saya keluarkan dari karung.

Awalnya buku yang sudah kering kami simpan di dalam kardus karena bau menyengat yang muncul tak mampu dihilangkan dengan pengharum.

Waktupun berlalu buku – buku itu perlahan semakin tak dapat digunakan lagi. Hingga empat tahun kemudian ajal menjemput Bapak, rak dan buku Bapak tak pernah ada lagi.

Sumber gambar : https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRJHuTReik5K9GuZCoP-GG2c218KoFmYz4pAx2hxk-YQPIpW1-C

Tiga kata dasar dalam sopan santun

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi sebuah toko yang menjual berbagai jenis VCD, mulai dari musik, film bahkan serial drama tersedia lengkap di tempat ini.

Toko yang sebenarnya cukup luas jadi penuh sesak oleh rak pajangan dan ditambah lagi dengan jumlah pengunjung yang ramai membuat tak mudah untuk berpindah dari satu rak ke rak yang lainnya.

Di tengah keramaian pengunjung, mata saya tertuju pada pasangan warga negara asing, mereka tampil amat mencolok dengan penampilan kekinian membuat mata sulit berkedip.

Tiba – tiba perhatian saya seketika teralihkan, suara halus nan lembut menyapa indra pendengaran “excuse me please…”. Segera saya mencari sumber suara tadi, dan ternyata tepat di belakang saya seorang anak kecil dengan rambut yang dikepang halus sedang meminta izin untuk melewati saya yang sedari tadi hanya terpaku menatap kedua orang tuanya.

Saya bertambah kagum dengan pasangan tadi, sejatinya anak mereka yang berusia sekitar 5 tahun telah mampu bersikap sopan santun pada orang lain.

Kejadian tadi amat kontras dengan kenyataan saat ini, dimana banyak orang dewasa di sekitar kita yang tak lagi peduli atau lebih tepatnya tak lagi menularkan sopan santun.

Apa jadinya generasi penerus kita nanti bila dari dini kita tidak memberi contoh bagaimana bersikap sopan santun?

Ada tiga kata dasar yang sepatutnya sering kita ucapkan sebagai bentuk sopan santun dalam berprilaku sehari – hari, yaitu:

Mengucapkan kata “maaf” bila salah

Tak perlu sungkan untuk memulai meminta “maaf” meski kepada bawahan anda, atau anak anda sekalipun bila bersalah padanya.

Mengucapkan kata “terima kasih”

Tak perlu menunda ucapan kata “terima kasih” pada orang yang telah membantu, sekalipun kepada asisten rumah tangga anda.

Mengucapkan kata “tolong”

Tak perlu ragu mengucapkan kata “tolong” disetiap awal sebuah permintaan yang anda minta terhadap orang lain.

Mari mulai dari diri sendiri, tularkan tiga kata dasar dalam sopan santun, karena ini merupakan bagian dari pembelajaran bagaimana menghargai sesama.

Segala yang baik berawal dari diri sendiri

Menatap birunya langit pagi dari jendela kamar lantai tiga, segala puji meluncur begitu saja pada Sang Pencipta. Sungguh nikmat dariNya tak pernah habis.

Awan yang tampak cerah mungkin terlihat biasa saja bagi sebagian kita, tapi bagi saudara kita nun jauh di sana pemandangan langit kelabu yang penuh debu dan asap menghitam diiringi desingan peluru menjadi penyambut pagi mereka.

Semua kita pasti pernah berada dalam situasi yang teramat buruk, tapi pada akhirnya berlarut dalam rasa sedih, putus asa, menyalahkan diri dan perasaan tak berguna sama sekali bukan solusi. Ayo sadarlah bahwa tak ada sesuatu yang menimpa diri kita kecuali telah disesuaikan dengan kemampuan setiap hamba. Bukankah keadaan yang terasa buruk juga bagian dari pengampunan dosa dan bentuk cinta dariNya?

Marilah bersyukur dengan memulai hari dengan menghargai sekecil apapun kebaikan di sekitar, kemudian beranjak dari tempat mu dan berilah senyuman diiringi sapaan terbaik pada setiap orang yang anda temui, percayalah segala kebaikan yang berawal dari diri sendiri akan menyemangati mu sepanjang hari.

Tak ingin berhenti

Memulai menulis saat ini terasa berat, sulit untuk memulainya. Tetapi aku faham benar bahwa disinilah me time ku saat ini.

Tenggelam dalam untaian kata, sejenak berada dalam dunia ku sendiri. Menjadi sedikit egois untuk diri dan menikmati waktu sejenak di tengah kejengahan hari.

Kesibukan di dunia nyata membuat waktu untuk menulis menjadi sulit bagi ku. Walau tak butuh waktu lama bagi ku untuk menulis, suara rengekan Malik, suara serial Sponge Bob favorit Alicia di TV dengan volume cukup membuat kuping sakit. Malik tak berhenti merengek seakan semua salah sampai ia mulai membanting gelas plastik yang semula ia pakai untuk minum.

Bukan hal yang mudah untuk menjadi waras di tengah hiruk pikuk, episode sebagai ibu dan perawat ICU menguras seluruh energi.

Tapi menulis membuat aku selalu kembali waras, percaya atau tidak saat ini aku sedang menulis ketika Malik sedang berlarian di halaman dalam pengawasan ayahnya dan beruntung suami ku punya penglihatan dan gerak yang cukup sigap untuk menghadang Malik turun ke jalan.

Ini kesempatan langka, seketika aku gunakan untuk menulis, mungkin terasa tak begitu penting bagi sebagian orang, tapi bagi ku mengasuh anak, merawat pasien dan menulis sama pentingnya bagi ku.

Salam semangat menjemput mimpi..

Mengapa saya senang menulis

Di awal tahun lalu @sittishabir mengenalkan saya sebuah wadah menulis di dunia maya. Beranjak dari sana saya terus menikmatinya hingga kini.

Aktifitas menulis sangat menyenangkan, dan berikut adalah beberapa alasan mengapa saya menyukainya:

Bentuk rasa syukur

Menulis bagi saya adalah bagian dari rasa syukur atas segala anugerah yang saya dapat baik itu dalam kesedihan maupun bahagia.

Memberi semangat

Menulis sering saya jadikan sebagai jalan keluar dari rasa sakit dan kesedihan, semua perasaan negatif saya ubah menjadi positif dalam bentuk tulisan dengan harapan dapat memberi semangat bagi orang lain.

Keterbukaan dan privasi

Saya punya batasan tulisan seperti apa yang patut untuk dipublikasi, ada pula tulisan yang tetap saya simpan hanya untuk rahasia pribadi saja.

Berimajinasi tanpa batas

Menulis membawa imajinasi saya ke dunia yang selama ini belum pernah terpikirkan. Saya bersyukur atas kemudahan saat menulis. Semua tulisan saya lahir dari keyboard smartphone, dan saya sangat nyaman dengan itu.

Me time

Melalui menulis saya menemukan dunia saya. Sejenak beralih dari aktifitas merawat pasien dan mengasuh anak – anak. Tak butuh waktu berlama dengan bantuan smartphone, saya bisa menemukan me time di mana saja kapan saja.

Saya biasa menulis saat anak – anak tertidur, saat dalam perjalanan atau saat menunggu suami menjemput saya dari tempat kerja.

Mengisi waktu luang dengan hal positif

Bagi saya waktu luang adalah waktu disaat anak – anak telah makan kemudian terlelap dalam buaian dan setelah segala tugas selesai, atau terkadang saya mencuri waktu beberapa menit diantara rutinitas bersama anak – anak untuk menyelesaikan tulisan yang telah saya mulai sebelumnya.

Membaca kemudian menulis

Hasrat menulis terkadang hadir setelah saya membaca. Dan kadang hal ini juga berlaku sebaliknya menulis kadang memaksa saya untuk membaca.

Inilah beberapa alasan saya menulis, saya berharap banyak orang di luar sana yang menulis. Sebuah pertanyaan dari saya bukankah kita mengetahui sejarah masa lalu dan prediksi masa depan dari tulisan yang dibuat para pendahulu?

Tak ada yang kenal dengan seseorang hingga ia dihadirkan dalam tulisan”

Keajaiban Doa

Kaki beranjak dari tempat tidur, hawa pagi mulai menyeruak masuk dari sela pintu, matahari kembali menyapa seolah sambil tersenyum menyambut wajah ku yang kini terpaku di hadapan jendela kamar lantai tiga.

Pemandangan kota mulai tampak, hiruk pikuk, semua tampak sibuk. Alhamdulillah ucap ku dalam hati, terima kasih duhai Pencipta telah selalu menjaga hamba Mu ini.

Hidup layaknya pasang surut, kadang juga terombang ambing. Tapi akankah kita terus berlarut? Seorang Ibu sudah sepatutnya tak boleh tenggelam dalam perasaan yang tak menentu, ibarat kata pepatah biarlah di luar sana sedang badai tetapi hati harus tetap tenang dan damai.

Saat mulai goyah segeralah berwudhu tunaikan sholat wajib dan sunah, berdoalah padaNya. Allah selalu punya cara untuk mengobati kesedihan, kegalauan hati dan rasa sakit.

Air mata akan mudah tertumpah dalam doa membuat hati menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi setiap persoalan. Tak perlu risau dengan apapun kata orang, terlebih menyikapi perlakuan orang terhadap kita, tetap tenang, mohon kelapangan hati dan biarlah tanganNya yang bekerja, percayalah Allah selalu bersama orang yang teraniaya dan siapa yang menyakiti akan tersakiti pada waktunya.

 

Temukan cahaya dalam diri mu

Hidup tak selamanya mulus, suasana hati mendadak dapat berubah menjadi sendu karena berbagai hal, hidup sebagai manusia menuntut kita berinteraksi dengan banyak orang dan terkadang malah menoreh luka.

Berlarut dalam kemarahan, kesedihan, rasa kecewa dan perasaan tak berguna tentu tak baik bagi jiwa. Situasi ini harus segera disadari, mungkin sebagian memilih untuk menceritakan masalahnya pada sahabat dan orang terdekat malah ada juga yang harus menemui terapis agar dapat menyehatkan jiwanya kembali.

Tetapi apapun solusi yang dipilih, percaya atau tidak semua masalah sebenarnya berawal dari pikiran. Butuh usaha dan pengalaman tingkat tinggi untuk mengasah kemampuan mengendalikan pikiran sebagai jalan keluar yang saya sebut “self healing”.

Diawali dengan menemukan akar permasalahan dalam kehidupan yang sedang dijalani, lalu keluarkan hal paling buruk dari pikiran anda dengan cara menceritakan pada sahabat, terapis atau cara paling sederhana yaitu menulis.

Masukkan hal positif sekecil apapun untuk menggantikan pengalaman buruk yang anda alami.

Lihatlah sekitar temukan kebahagiaan dari bersyukur. Pertajam kemampuan hati untuk mengenali sumber penguat bagi jiwa anda.

Tanamkan dalam benak diri bahwa penyembuh jiwa terbaik berasal dari diri sendiri, tataplah indahnya dunia dengan bersyukur tanpa batas.

Impian Menjelajahi Indahnya Dunia Dimulai dari Indonesia

Setiap kita pasti mempunyai impian, ada yang punya satu, dua atau malah banyak impian. Impian yang akan membawa semangat dalam menjalani rutinitas keseharian.

Sejak kecil saya mempunyai impian untuk dapat bepergian sendirian, memikul tas ransel, menarik koper sendiri, memilih transportasi dan menaikinya sendirian.

Menjelajahi tempat baru, berinteraksi dengan orang yang baru anda temui, mencoba makanan khas daerah tersebut tentu sangat menyenangkan. Dan untuk memulai penjelajahan dunia, saya sangat ingin memulainya dengan menjelajahi indonesia terlebih dahulu.

Berikut tiga tempat indah yang ingin saya kunjungi di Indonesia :

Ramang – ramang

Source : https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSvB755YkrM4H_sK_vgMD1u9QFVf_68NUTwfr_Elr2kSm5IZixJljSZ2yK_

Sebuah tempat yang tercipta dari gugusan gunung kapur, dengan paduan pemandangan gunung, pedesaan, gua eksotis dan juga sungai. Ramang – ramang dapat dijangkau hanya sekitar 1 jam perjalanan dari bandara kota Makassar.

Wakatobi

Source : https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQXyEmLwXOFWPfAl0fgd-v28q0GxiHPKQZficLKm-iU3NtMNOLx

Wakatobi adalah sebuah Taman Nasional di Provinsi Sulawesi Tenggara. Gugusan kepulauan Wakatobi menyuguhkan pantai berpasir putih dengan air laut yang jernih layaknya kaca dengan berbagai biota laut yang memukau.

Halmahera

Source : https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQm1-AAdg-mNVciNUj3drQYCzuLqsMsFV2k2Qq8efpVocuCjmwOq8xIvmj9

Halmahera yang berada di Maluku menawarkan gugusan pulau cantik. Pantai pasir putih, pantai yang tenang dan masih terjaga, pasti akan membawa siapa saja yang berkunjung serasa mau berada di dunia lain untuk sesaat.

Inilah tiga tempat yang sangat ingin saya kunjungi, yang semuanya berada di Indonesia bagian Timur, semoga tak lama lagi saya dapat menginjakkan kaki di sana.

Teori Kebahagiaan

Malam menjelang selembar selimut tak dapat menghalau udara dingin dari pendingin ruangan, semua sudah terlelap. Suasana senyap mulai merayap.

Tak seperti biasa, mata tak bisa terpejam, akhirnya kepala saya mulai melakukan kerjanya. Pikiran melayang ke sana sini, dan akhirnya menentukan sebuah tema yaitu kebahagian.

Kata kebahagiaan mempunyai arti yang relatif, pastinya tak sama maknanya bagi setiap orang, meskipun semua orang jelas ingin bahagia.

Banyak dari kita masih mencari kebahagiaan, tapi tak sedikit pula orang – orang telah sukses menggapai kebahagiaan. Mereka telah menemukan kebahagiaan dalam ketenangan dan kesederhanaan.

Hidup tanpa terlalu terobsesi dengan harta, tetapi memilih hidup sederhana asalkan dapat tetap bersama dan dapat saling bertatap muka setiap hari, melihat perkembangan anak – anak dalam bahagia yang tak terkira.

Seperti teori kebahagiaan yang ditulis oleh Albert Einstain untuk seorang kurir saat ia berada di Jepang hampir seabad lalu sebagai pengganti uang tip, bunyinya adalah : “Sebuah hidup yang tenang dan sederhana akan membawa kebahagiaan ketimbang terus – menerus mengejar sukses namun selalu diliputi kegelisahan”.

Sebuah teori yang patut untuk difahami dan menjadi renungan buat diri, apa yang kita cari untuk menggapai bahagia saat ini, apakah telah benar – benar membuat kita bahagia?

Photo taken by : Muhammad Ikramullah

Sabar Tak Ada Batasnya

Hidup bukanlah perkara mudah untuk dilalui, selalu ada saja yang membuatnya tidak mulus. Ada saja rintangan dalam mencapai kebahagiaan sesungguhnya.

Nah, apa yang harus dilakukan ketika ujian sabar terus ada tanpa jeda? Jawabannya adalah sikapi dengan bijak, bersabarlah dan terus bersabar.

Pasti rasa frustasi, marah, kecewa dan perasaan lain dapat menurunkan semangat, dan terkadang anda bisa hilang kontrol kapan saja.

Belajarlah untuk menyalurkan marah dengan bijak, seperti kata pepatah orang yang tidak dapat mengendalikan dirinya adalah bagaikan sebuah kota yang runtuh temboknya.

Lakukan berbagai usaha pengalihan, anda dapat menarik nafas panjang sejenak, berwudhu, meninggalkan pertikaian sementara waktu, dan setelah tenang mulailah pembicaraan dari hati ke hati.

Sikapi setiap permasalahan dengan kepala dingin dan berprasangka baik kepada Allah, tak ada cobaan dari Nya selain diberi sesuai dengan kemampuan hambanya.

Hargailah hal positif sekecil apapun dari diri anda. Mencari cara agar dapat mengendalikan diri, dengan menikmati udara segar, bermain bersama anak – anak dan masih banyak lagi.

Ingatlah satu hal, anda harus sebisa mungkin menghargai diri sendiri, sebelum anda meminta orang lain menghargai anda.

Melampiaskan marah bukanlah cara yang bijak, carilah jalan terbaik untuk menyampaikan perasaan anda karena amarah yang tak terkendali hanya akan mempermalukan diri sendiri.