Maksimalkan potensi diri

 

Jam seolah berdetak cepat, Jadwal jaga pagi membuat saya seakan tak mampu menghela nafas, aktifitas yang padat dengan pasien di ICU mewarnai hari itu.

Mata mulai tertuju pada jam dinding di ruang ICU tepat pukul 14.30 WIB. Saya bergegas berganti pakaian untuk segera pulang setelah melakukan serah terima pasien kepada tim berikutnya.

Suami yang telah menjemput di depan Rumah Sakit setia menunggu saya hadir di hadapannya. Suami kemudian mengajak saya makan siang di sebuah restoran yang terkenal dengan kelezatan Bistik Ayam.

Setelah makan, saya menuju meja kasir. Mata saya langsung tertuju pada sebuah mesin jahit mungil di atas meja kasir, tampak selembar kain di bawah jarum mesin jahit. Rasa penasaran membuat saya bertanya “Bang, mesin jahit ini dijual ya?” “Iya dijual, tapi ini mesin jahit punya saya, lagi belajar menjahit, kalo jadi orang harus banyak belajar ya..” Jawab Sang pengusaha keturunan Tionghoa itu.

Mendengar jawabannya saya mangut saja sambil menjawab “Iya bang betul itu”. Teringat dahulu mama mengharuskan saya belajar banyak keterampilan.

Sukses sulit diraih bila berfokus pada satu titik, lihatlah sekeliling manfaatkan segala peluang dan asah potensi diri dengan maksimal sehingga sukses dapat dicapai tanpa harus egois bertahan pada satu peluang saja.

Kisah Lemari Penuh Buku Milik Bapak

Waktu telah menunjukkan pukul 03.15 WIB, kini malam telah terlalu larut, tetapi saya belum juga dapat menutup mata. Ada sebuah tanda tanya besar yang sedang berkecamuk dalam alam sadar.

Dahulu segala pertanyaan yang terlintas akan segera saya temukan jawabannya di rak buku milik Almarhum Bapak. Rak buku enam tingkat dengan lebar beberapa meter selalu menyediakan jawaban untuk saya.

Di rak buku itu saya menemukan pengetahuan baru, motivasi bahkan solusi atas segala persoalan hidup yang saya alami. Meski demikian rak ini tak hanya saya datangi jika ingin menemukan jawaban, tetapi saya kerap datang untuk memilih buku secara acak dan membacanya perlahan untuk menghabiskan waktu luang.

Aroma lembaran buku yang mulai menguning itu membuat ingatan akan Almarhum bapak kembali. Bapak amat sayang dengan koleksi bukunya, ia sering menegur saya bila sembarangan memperlakukan bukunya.

Rak itu selalu rapi, buku tersusun sesuai tema, tebal dan panjang pendeknya. Bapak selalu mengingatkan saya untuk meletakkan buku kembali sesuai tempatnya semula.

Suatu pagi tanggal 26 Desember 2004 musibah dahsyat melanda, rumah kami yang berjarak cukup jauh dari pantai tak luput dari terjangannya. Sebagian rumah kami hilang hanya lantai yang tersisa, sebagian lagi tetap utuh tetapi tak ada satupun perabotan yang masih layak bentuknya.

Rak buku Bapak terbelah dua, buku berserakan di dalam lumpur Tsunami. Bapak mengumpulkan beberapa buku yang sempat ia temukan. Buku itu dimasukkan ke dalam sebuah karung kemudian dipikulnya melewati reruntuhan bangunan sekitar hingga ke jalan raya.

Di tempat pengungsian saya dan Bapak menjemur buku yang tersisa, tetapi semua sebenarnya tak layak lagi untuk dibaca, air dan lumpur membuat buku benar – benar rusak. Air mata saya perlahan tumpah, bendungan yang tertahan akhirnya runtuh juga saat satu persatu buku saya keluarkan dari karung.

Awalnya buku yang sudah kering kami simpan di dalam kardus karena bau menyengat yang muncul tak mampu dihilangkan dengan pengharum.

Waktupun berlalu buku – buku itu perlahan semakin tak dapat digunakan lagi. Hingga empat tahun kemudian ajal menjemput Bapak, rak dan buku Bapak tak pernah ada lagi.

Sumber gambar : https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRJHuTReik5K9GuZCoP-GG2c218KoFmYz4pAx2hxk-YQPIpW1-C