Melawan rasa malas untuk kembali menulis

Sumber gambar : Pixabay

Menulis adalah sebuah awal dari peradaban, banyak hal yang manusia modern pelajari dari berbagai tulisan yang digoreskan oleh para pendahulu.

Menulis akan membuat rincian tentang suatu peristiwa hingga menemukan pembacanya.

Banyak diantara kita yang menganggap memulai untuk menulis adalah hal yang sangat sulit. Bahkan saya sendiri demikian.

Saat ini saya asyik dengan aktifitas membaca karya tulis orang lain, sedangkan saya sendiri sejujurnya rindu untuk menulis lagi, tapi banyak kendala dalam prosesnya, sehingga draf yang saya buat akhirnya urung untuk dibagikan ke pembaca.

Saya paksakan diri ini untuk mengetik huruf demi huruf. Kaku rasanya, tapi ada bahagia ketiga satu persatu paragraf selesai saya buat.

Sumber gambar : Pixabay

Entahlah, saya senang menulis dan menginginkannya. Menulis membuat saya berada di dunia saya sendiri, sejenak berhenti melihat sekitar untuk memberi ruang bagi jiwa.

Memulai menulis kali ini sedikit terasa janggal, tapi setidaknya saya memulainya lagi. Memanggil memori untaian kata yang tersimpan di pusat ingatan.

Meski terasa sedikit memaksakan kehendak, tetapi saya harus melakukannya, agar fikiran terus berdenyut untuk memantik semangat menulis kembali.

Sumber gambar : Pixabay

Sebuah tulisan dari penulis novel Harry Potter telah mengerakkan saya untuk menulis lagi.

“Mulailah dengan hal – hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaan mu sendiri”

(J.K. Rowling)

Merubah limiting belief menjadi empowering belief

Sumber gambar : pixabay

Pagi menjelang, semangat mentari bersinar mulai menerangi. Begitu pula saya yang mulai bersemangat untuk menulis kembali.

Teringat sebuah buku karangan seorang penulis best seller dan motivator sukses Ongky Hojanto, di dalam bukunya ia mengurai cerita tentang selembar uang seratus ribu di tangannya “Siapa yang menginginkan uang ini?” semua audience yang mengikuti seminarnya menjawab “Saya mau”.

Kemudian uang kertas tersebut di remas – remas oleh Ongky Hojanto, dan kembali ia bertanya “Ada yang mau uang ini?“, semua audience masih menjawab “Saya mau”.

Hingga Ongky Hojanto menginjak – injak uang seratus ribu tersebut, dan kemudian ia bertanya kembali kepada para audience seminarnya “Apakah ada yang masih mau uang ini?”, hampir semua menjawab “Saya mau”.

Mengapa hampir semua audience masih ingin memiliki uang seratus ribu itu, meskipun ia sudah diinjak – injak sehingga menjadi kotor dan kusut?

Karena mereka menilai uang dari nilainya, meskipun uang seratus ribu itu telah kusut dan kotor sekalipun, tetapi nilai uang tersebut tidak pernah berubah.

Begitu juga kita manusia, meskipun saat ini anda kaya ataupun miskin, sukses atau tidak sukses, itu semua tidak mengurangi nilai diri anda sebagai manusia yang penuh potensi diri.

Sumber gambar : pixabay 

Bersemangatlah, jangan berhenti bermimpi hanya karena perlakuan atau anggapan orang lain, karena setiap individu punya potensi untuk mewujudkan mimpi.

Sumber gambar : pixabay

Tak ada kata terlambat untuk mulai keluar dari cangkang rutinitas semu dengan melihat sekeliling sambil menggali potensi, karena tak ada yang menyangkal bahwa banyak orang sukses berawal dari mimpi – mimpi besarnya.