Menulislah dari Relung Jiwa

Dentingan jam berdetak lambat, awan gelap menyelimuti malam, jiwa – jiwa yang lelah mulai tenggelam dalam impian akan hari esok yang terang benderang.

Hati mulai menggerakkan jemari – jemari ku untuk mulai menekan satu persatu huruf di atas keyboard. Tak sadar aku mulai merangkai kalimat menjadi paragraf.

Ah, akhirnya aku mulai bercinta dengan tulisan ku lagi dan lagi. Teman ku @sittishabir pernah bertanya pada ku “Kak mengapa kakak setiap hari bisa menulis?”
Sebuah pertanyaan yang pada awalnya sulit ku jawab.

Aku mulai mereka – reka mengapa bisa menulis? Entahlah. Untuk mencari jawabannya aku mulai dengan membaca tulisan – tulisan ku sebelumnya, mungkin ada jawaban disana pikir ku.

Setelah membaca sederet tulisan yang ku buat, aku mulai menyadari bahwa aku menulis karena jiwa ku senang menulis.

Aku membaca setiap bait dari paragraf yang ku buat, aku tak mencontohnya dari tulisan orang lain, bahkan yang ku temui adalah ada tulisan orang lain yang mengambil beberapa bait dari untaian kalimat yang ku tulis.

Aku tersadar penuh, jiwa yang haus mengungkapkan kata ternyata membuahkan bahagia pada diri ku dan kalimat demi kalimat terus mengalir begitu saja, tak ada yang dibuat – buat atau sengaja dibuat.

Aku menulis untuk diri dan aku bersyukur jika karya ku dapat bermanfaat untuk yang lain. Aku senang jika karya ku ditiru karena berarti si penulis itu senang dengan karya ku, tetapi bukankah sebuah karya lebih baik dihasilkan dari jiwa sendiri bukan dengan meniru karya orang lain.

Menulislah untuk bahagia, janganlah menulis karena terpaksa, karena itu hanya awal dari menipu diri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *