Cerita Hari Ketiga di Sekolah Baru : Sepatu Kuning dan Kesempatan untuk Melakukan Kesalahan

Kisah bermula dari suami yang pinggangnya mendadak sakit setelah mengangkat galon berisi air mineral dari lantai satu ke lantai tiga sendirian.

Mungkin karena salah posisi saat mulai mengangkat jadilah ia merintih kesakitan saat berjalan. Sepulang jaga malam saya mendapat keluhan nyeri pinggang darinya.

Olesan salap pereda nyeri otot serasa tak berguna, nyeri tetap saja mengganggunya, meski ia masih dapat berjalan tetapi sedikit tertatih.

Saya menganjurkannya untuk pergi ke tempat pijat, tetapi langganan tempat pijat yang biasanya baru buka setelah jam delapan malam.

Tersadar jam delapan malam hampir tiba, kami bergegas menuju tempat pijat langganan yang berjarak sekitar 30 menit dari tempat kami tinggal dengan membawa Alicia dan Malik karena tak ada yang bisa ditinggal, semua minta ikut.

Sesampai di sana, ternyata kecewa menyapa, sang tukang pijit ternyata sedang tak menggelar prakteknya. Sempat bingung pada awalnya, akhirnya karena sudah niat mau melakukan pijat, kami lanjut mencari tempat pijat lain atas rekomendasi seorang teman.

Tertidur terlalu malam, membuat Alicia sulit bangun pagi. Bergegas ke sekolah agar tidak telat. Alicia berangkat ke sekolah sekitar jam tujuh pagi. Saya mengantarnya hanya sampai ke lantai 2 dan di lantai 1 suami ku telah menunggu untuk mengantarnya ke sekolah.

Waktu berlalu, saya mulai menyiapkan makan siang, dari lantai dua saya melihat sepasang sepatu hitam tergeletak di dekat tangga menuju lantai 1. Eh sepatu sekolah Alicia itu.

Segera saya jumpai suami, saya bertanya apa “Alicia sudah pulang”? Ayahnya menjawab “Alicia baru pulang 30 menit lagi”.”Belum pulang sekolah?” Tanya ku.”Tapi sepatu sekolahnya di rumah?”. “Berarti dia pakai sepatu apa tadi?” Segera saya meluncur ke rak sepatu, dan ternyata sepatu kuning yang menghilang. Jadi bisa saya pastikan Alicia salah pakai sepatu ke sekolah.

Alicia mengantuk, sehingga ia lupa memakai sepatu hitam untuk sekolah. Tak dapat saya bayangkan ekspresinya saat sadar sepatu yang dikenakannya salah.

Ayahnya hanya senyum – senyum karena ia yang mengantar Alicia ke sekolahpun tak menyadari anaknya salah memakai sepatu. Saya dan suami tertawa terpingkal – pingkal, tak bisa membayangkan
kekonyolan kami pagi itu.

Sepulang Alicia sekolah saya langsung bertanya padanya, bagaimana sekolah hari ini, apa ia dimarahi guru atau diejek temannya karena sepatu kuning yang ia pakai. Alicia menjawab “Tenang bunda, beres semua, ga ada yang tau sepatu Alicia kuning, Alicia tidak pindah – pindah dari meja belajar, jadi bu guru dan teman – teman tidak lihat sepatu kuning Alicia, mereka sibuk baca buku”.

Saya memeluk Alicia, seakan saya telah diingatkan olehnya bahwa ibunya telah khawatir berlebihan. Ia anak yang luar biasa ternyata, ia mampu mencari jalan keluar atas masalah yang ia hadapi tanpa panik.

Saya menyadari bahwa memberikan anak kesempatan untuk salah adalah baik untuknya, ia akan belajar banyak hal dari setiap kesalahan yang ia lakukan. Anak – anak akan belajar tanggung jawab, belajar mengendalikan emosi, belajar mencari solusi atas masalah yang ia hadapi akibat kesalahan yang ia lakukan.

Tugas orang tua sebenarnya bukan menyediakan semua harus sesuai tanpa cela, tetapi mengawasi anak – anak dan membimbingnya untuk menjadi pribadi yang kuat, serta mengajarkan hal yang baik baginya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *