Cerita Hari Pertama Masuk Sekolah Baru

 

Senin tanggal 16 Juli 2018 adalah hari baru bagi keluarga saya. Terutama buat anak perempuan saya Alicia, ia mulai menduduki bangku Sekolah Dasar.

Semua tampak berbeda, dengan mengenakan seragam putih – putih ia berangkat ke sekolah. Saya mengantarnya sampai ke dalam kelas.

Alicia tak menunjukkan ekspresi apapun dari wajahnya. Tak ada raut wajah cemas dan takut, tetapi raut wajah senangpun saya tak melihatnya.

Ia duduk di bangku kedua dari depan, saya memperhatikannya dari balik jendela, ia sangat serius mendengar Ibu guru yang sedang menjelaskan sesuatu di depan kelas.

Dari balik jendela yang sama, saya melihat ada beberapa murid yang sesegukan menahan tangis. Ibu guru berusaha membuatnya lebih tenang, tetapi untuk menenangkan murid ini, butuh waktu beberapa lama.

Layaknya adegan sinetron sedih di Televisi, Ibu dari sang anak yang juga mengintip bersama saya dari balik jendela, ikut berurai air mata. Ternyata hari pertama sekolah terlalu sulit bagi beberapa murid.

Adaptasi tempat baru, teman baru, lingkungan baru tak bisa dipungkiri telah membuat anak – anak tidak nyaman, dan tak semua anak dapat melewati proses ini dengan mudah.
Alicia putri saya tak mengungkapkan secara langsung ketidaknyamanan yang ia rasakan. Setelah melalui pembicaraan panjang dengan Alicia, Ia hanya berkata pada saya “Bunda, Alicia lebih suka sekolah di TK”.

Sebuah kalimat yang hanya tersusun dari beberapa kata saja, tetapi sudah memberi kesimpulan besar pada saya, bahwa ia tak nyaman dengan sekolah barunya.

Sebagai orang tua, saya memberi support bahwa semakin lama bersekolah ia akan semakin menyenangi sekolah baru tersebut, perbanyaklah teman, dan tetap jadi anak yang santun dan ramah, pasti semua orang akan senang berteman dengan Alicia, dan jika ada hal yang membuat Alicia tidak senang tolong ceritakan pada Bunda, begitu kira – kira nasehat yang saya berikan pada Alicia.

Menurut hemat saya, setiap anak mempunyai potensi dan mekanisme koping serta adapatasi pada setiap proses kehidupan yang dijalaninya. Hanya saja kita sebagai orang tua patut mengetahui tanda – tanda anak mengalami masalah dalam hal tersebut dan mampu berperan sebagai pendengar, pemberi solusi serta pemberi motivasi untuk anak.

Tak mudah menjadi orang tua, kita dituntut untuk lebih peka pada anak, karena tak semua anak mampu mengungkapkan kegelisahan atau ketidaknyamanan yang ia rasakan.

Semoga kita sebagai orang tua mampu bertindak bijak, memberi yang terbaik, dan mendukung mereka untuk menjadi pribadi yang kuat serta sukses dikemudian hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *