Libur sekolah usai kegelisahan hatipun datang

Senin ini sekolah akan ramai kembali diisi oleh murid – murid sekolah. Jalanan akan kembali dipenuhi para orang tua yang hiruk pikuk mengantar anaknya karena tahun ajaran baru telah dimulai.

Semakin mendekati hari pertama tahun ajaran baru, hati saya semakin gelisah. Pertanyaan demi pertanyaan terus menghantui pikiran saya. “Apakah anak saya akan baik – baik saja?”. “Apakah keputusan saya menyekolahkannya di sekolah itu sudah benar?”. “Akankah ia terbebani dengan pelajarannya?”. “Akankah hilang ceria masa kecilnya?” serta segudang pertanyaan lain yang hilir mudik di alam fikiran saya.

Memilih sekolah bagi saya dan orang tua lainnya adalah cukup sulit. Saya memilih sekolah untuk anak dengan segala pertimbangan. Meski demikian rasa gelisah ini tak kunjung hilang.

Saya tak ingin anak saya nantinya menjadi seorang anak yang murung, tanpa senyuman lagi di wajahnya. Apalagi setelah saya mendengar pembelajaran siswa sekarang jauh lebih rumit.

Apa ini adalah sebuah jawaban dari tantangan global?. Saya sendiri tidak terlalu memusingkan prestasi anak di sekolah, toh keberhasilan tak sepenuhnya dipengaruhi oleh prestasi. Saya lebih menakutkan pengaruh psikologis anak saya, saya tak ingin ia merasa tersudutkan dengan tuntutan akademik dari sekolah.

Sebagian anak akan dijauhi oleh temannya jika ia terkenal tidak pintar dan itu tentunya akan menoreh luka dalam hati anak. Hati kecil saya ingin agar anak saya dapat belajar bebas, sesuka hati tanpa harus melihat hasilnya bagus atau tidak. Saya akan hargai setiap usahanya.

Tetapi apakah lingkungan sekolah juga memiliki pandangan yang sama seperti saya?. Anak saya Alicia akan memasuki dunia sekolah dasar, saya memilih sekolah dengan latar belakang Ilmu Agama Islam.

Saya punya harapan agar ia menjadi anak yang cerdas tapi tak lupa siapa penciptanya. Sejauh ini Alicia telah berhasil masuk dalam daftar 200 siswa yang lulus uji kesiapan dari total 600 orang siswa yang ikut uji kesiapan.

Meski saya tau Alicia mampu, tetapi hati saya tetap saja tak ingin ia terbebani dengan keharusan bernilai tinggi. Bukankah kita lihat saat ini banyak orang yang berhasil sukses tanpa melewati pendidikan formal? Mereka yang menikmati hari tanpa ketakutan dengan ujian.

Saya hanya dapat berharap dalam hati kegelisahan yang saya alami hanyalah kegelisahan semu belaka. Semoga anak ku dapat melewatinya dengan tanpa beban, dan ia menjalani hari dengan penuh senyuman seperti hari – hari sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *